tuladu.com_Kota Gorontalo – Kelompok Cipayung Plus menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Merawat Keberagaman, Memperkuat Persatuan, Menolak Intoleransi di Bumi Serambi Madinah di Gedung Arafah Asrama Haji. Acara ini juga menjadi ajang refleksi satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. (21/10/25)
FGD ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk perwakilan dari Polda Gorontalo, Pemerintah Provinsi Gorontalo, Kementerian Agama Gorontalo, FKUB, FKPT, Danrem 1313 Nani Wartabone, Densus 88, BIN Daerah Gorontalo, serta para mahasiswa dari kelompok Cipayung Plus.
Zakaria, perwakilan Cipayung Plus, menyampaikan bahwa kegiatan ini didasari oleh keprihatinan terhadap potensi pergeseran nilai toleransi di masyarakat Gorontalo. Ia juga mengingatkan ancaman radikalisme dan intoleransi yang pernah terjadi di Indonesia, serta mengajak pemuda menjadi agen perdamaian.
Kapolresta Gorontalo Kota, Kombes Pol Suryono, menekankan bahwa perbedaan adalah keniscayaan dan mengajak kaum muda untuk terus menumbuhkan semangat persaudaraan. Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Gorontalo, Dr. Ir. H. Muh Zamal Nganro, yang mewakili Gubernur Gorontalo, membuka acara dan menyampaikan bahwa Gorontalo memiliki sejarah panjang dalam menegakkan nilai-nilai keislaman yang damai dan toleran.
Acara dilanjutkan dengan deklarasi dukungan dari Kelompok Cipayung Plus untuk menjaga keberagaman di Provinsi Gorontalo. Mereka berkomitmen menjadikan keberagaman sebagai langkah sentral menuju kemajuan dan mewariskannya kepada generasi mendatang.
Dialog Kebangsaan menjadi inti acara, dengan menghadirkan narasumber seperti Kakanwil Kemenag Prov. Gorontalo DR. Hi. Kaswad Sartono, Ketua FKPT Prov. Gorontalo Dr. Funco Tanipu, dan Ketua FKUB Prov. Gorontalo K.H. Abdul Rasyid Kamaru.
Kakanwil Kemenag menyampaikan bahwa Indonesia lahir dari keberagaman dan Kemenag terus membina ormas keagamaan agar tidak menyebarkan kebencian. Ketua FKPT mengingatkan bahwa Gorontalo rawan penyebaran terorisme dan radikalisme, yang kini memanfaatkan teknologi dan media sosial. Ketua FKUB menambahkan bahwa secara umum, belum ada permasalahan lintas agama yang merusak kerukunan di Gorontalo.
FGD ini bertujuan untuk memperkuat persatuan, merawat keberagaman, dan menolak intoleransi di Gorontalo, serta merefleksikan satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
