Gorontalo – Suasana malam di berbagai wilayah Gorontalo tampak berbeda dan penuh pesona dengan digelarnya tradisi Tumbilotohe, sebuah warisan budaya yang rutin dilaksanakan pada malam-malam terakhir bulan Ramadan. Ribuan lampu tradisional yang dipasang di sepanjang jalan, halaman rumah, hingga tempat ibadah menciptakan pemandangan yang indah sekaligus khidmat.
Pelaksanaan Tumbilotohe tahun ini berlangsung dengan lancar berkat kerja sama antara panitia dan masyarakat. Sejak tahap persiapan, warga secara gotong royong menyiapkan berbagai perlengkapan, mulai dari lampu minyak hingga dekorasi penunjang lainnya. Antusiasme masyarakat terlihat jelas dari partisipasi aktif di setiap lingkungan.
Ketua panitia kegiatan menyampaikan bahwa Tumbilotohe bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan simbol penerangan hati dalam menyambut malam-malam penuh kemuliaan, termasuk malam Lailatul Qadar. “Cahaya lampu yang dinyalakan memiliki makna mendalam sebagai harapan akan keberkahan, petunjuk, dan kedamaian bagi seluruh masyarakat,” ujarnya.
Selain menghadirkan keindahan visual, tradisi ini juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga. Keterlibatan berbagai kalangan, termasuk generasi muda, menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya dan keagamaan masih terjaga dengan baik di tengah perkembangan zaman.
Pemerintah daerah bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama turut memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Mereka berharap tradisi Tumbilotohe dapat terus dilestarikan sebagai identitas budaya Gorontalo sekaligus menjadi daya tarik wisata religi.
Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga, Tumbilotohe diharapkan tidak hanya menjadi simbol keindahan, tetapi juga penguat nilai keimanan dan persatuan masyarakat Gorontalo di masa yang akan datang.
Gemerlap Tumbilotohe Terangi Gorontalo, Tradisi Sarat Makna di Penghujung Ramadan
