Sebagai Ketua Panitia kegiatan qunut di Provinsi Gorontalo, saya memandang tradisi ini bukan sekadar rangkaian ibadah rutin, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Qunut Subuh telah menjadi kebiasaan yang mengakar, menghubungkan generasi tua dan muda dalam satu nilai spiritual yang sama.
Setiap pelaksanaan kegiatan, kami berupaya memastikan seluruh rangkaian berjalan dengan khusyuk dan tertib. Mulai dari koordinasi dengan para imam, tokoh agama, hingga masyarakat setempat, semua dilibatkan agar kegiatan ini tidak hanya menjadi seremonial, tetapi benar-benar memberi makna bagi setiap jamaah yang hadir.
Kami juga memberikan perhatian khusus pada generasi muda. Melalui pembinaan dan pengajaran, kami ingin memastikan bahwa mereka tidak hanya mampu menghafal doa qunut, tetapi juga memahami maknanya. Dengan begitu, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi kami, qunut adalah doa yang menyatukan—mengandung harapan akan keselamatan, keberkahan, dan kedamaian bagi seluruh masyarakat. Oleh karena itu, menjaga keberlangsungannya adalah tanggung jawab bersama.
Kami berharap, melalui kegiatan ini, masyarakat Gorontalo semakin memperkuat keimanan dan kebersamaan. Tradisi qunut akan terus hidup, bukan hanya sebagai amalan ibadah, tetapi juga sebagai warisan spiritual yang memperkokoh jati diri daerah ini.
Suara Ketua Panitia Qunut: Menjaga Tradisi Spiritual di Gorontalo
